Keylogger Hardware

0

Pada sebelumnya telah kita ketahui bahwa Keylogger adalah sebuah software yang senantiasa merekam dan menyimpan semua input yang di masukkan oleh keyboard. Keylogger biasanya digunakan oleh orang-orang yang ingin mencuri data atau password account milik orang lain yang kemudian data-data atau password account tersebut akan digunakan oleh orang tersebut. Hasilnya biasanya di simpan kedalam sebuah log atau catatan teks.

Keylogger berkerja seperti Siluman Komputer. Dimana setiap aktifitasnya tidak terlihat, Berikut contoh Software keylogger:
Shadow Keylogger 1.1.0                          (40 Kb)
DigitalX Local Keylogger 1.0                 (167 Kb)
Keylogger Douglas 1.1                              (1 Mb)
Revealer Keylogger Free Edition 1.4 (95 Kb)
Tim’s Keylogger 1.0                                   (344 Kb)
Sekilas di atas adalah sedikit pengertian tentang keylogger.
Nah untuk yang di bawah ini, saya akan menjelaskan tentang Keylogger Hardware.

Keylogger Hardware adalah sebuah hardwar penunjang aktifitas Keylogger software. Keylogger Hardware ini merupakan sebuah alat berbentuk seperti konnektor keyboard, dan Biasanya Tersambung di belakang CPU seperti gambar

Gambar di atas merupakan PS2 Plugin yang terdapat pada PC kalian masing-masing.
Biasanya plug di antara keyboard komputer dan komputer  juga pada log setiap  aktivitas keyboard ke memori internal. Mereka dirancang untuk bekerja dengan PS/2 keyboard, Sebuah keylogger hardware muncul hanya sebagai flashdisk USB (thumb drive)atau perangkat komputer lain sehingga korban tidak pernah dapat meragukan bahwa itu adalah keylogger. Jadi dengan melihat penampilan itu tidak mungkin untuk mengidentifikasi sebagai keylogger. karena colokan pada ujungnya hampir sama pada colokan keyboard anda, maka agak sulit untuk di deteksi.

Berikut ini adalah Contoh dari Keylogger Hardware.

Maka dari itu di harapkan berhati-hati jika menemukan Hardware menempel di CPU tempat anda bermain.
jika sudah di pasang pada CPU maka sepergi gambar di bawah.

Maka dari itu diharapkan untuk Berhati-hati jika menemukan
barang yang agak asing menempel di CPU yang anda gunakan.

Tips:
Untuk mengatasi pencurian data via keylogger, anda bisa menggunakan anti-Keylogger atau juga bisa menggunakan virtual keyboard.
Sistem operasi XP biasanya sudah memiliki virtual keyboard Default, anda bisa mencobanya di Start Menu -> Programs -> Accessories -> Accessibility -> On-Screen Keyboard.
Atau bisa Downlod softwarenya :
Virtual Keyboard 3.0 (764 KB)
Free Virtual Keyboard 1.0 (442 Kb)
Universal Virtual Keyboard 1.1.2 (23 KB)
J Virtual Keyboard 1.0 (99 KB)
Click-N-Type 3.03.385 (1 Mb)

Bagi Yang sudah lebih banyak mengetahui. Di mohon untuk saling Sharring :P

Sumber:

http://by-1.blogspot.com/2010/01/definisi-keylogger-dan-cara-mengatasi.html

http://away-thea.forumr.biz/t1545-cara-hack-email-menggunakan-hardware-keylogger

Dampak sosialisasi masyarakat bagi perkembangan pendidikan

0

Nama : Tri Rifianto

NPM  : 17112457
Kelas  : 1ka19

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         LATAR BELAKANG
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Dalam suatu proses pembelajaran pasti ada interaksi antara guru dan murit. Oleh karena itu betapa pentingnya peran sosialisasi dalam bidang pendidikan.

1.2. Rumusan masalah:
 1. Apa yang di maksud sosialisasi
2. Jenis dan tipe sosialisasi
3. Pengaruh sosialisasi masyarakat bagi perkembangan pendidikan

1.3. Tujuan:
 1. Mengetahui tentang sosialisasi
2. Mengetahui jenis sosialisasi
3. Mengetahui bagaimana sossialisasi mempengaruhi pendidikan

1.4. Rangkuman
salah satu agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan formal(Sekolah), Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.

 BAB II

ISI

1.1. Sosialisasi dalam pendidikan
Hubungan timbal-balik sekolah, keluarga, masyarakat dalam proses sosialisasi pendidikan
Berhasil tidaknya pendidikan di sekolah bergantung pada dan dipengaruhi oleh pendidikan di dalam keluarga. Pendidikan keluarga adalah fundamen (dasar) dari pendidikan selanjutnya.[ Purwanto M. Nngalim, Ilmu Pendidikan Teoretis Dan Praktis,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. h., 79.] . pendidikan senantiasa berfungsi di dalam dan terhadap sistem sosial tempat sekolah tersebut berada. Selain itu juga terdapat dua macam perubahan social. Perubahan terjadi sangat cepat, perubahan ini berhubungan dengan masalah materi.
Perubahan yang terjadi secara lambat, karena terdapat beberapa hambatan dan tantangan. Perubahan ini yang berhubungan dengan agama, adat-istiadat, norma-norma, bentuk pemerintahan, filsafat hidup, dan lain sebagainya.[ Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara: 1995]
Hal tersebut senada dengan yang dinyatakan oleh para ahli, yaitu: Wilbert Moore berpendapat bahwa perubahan sosial sebagai perubahan penting dari struktur sosial. Dan struktur sosial itu adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial. Sedangkan Rober H. Lauer berpendapat bahwa perubahan sosial itu sangatlah rumit untuk dijelaskan, sebab banyak hal yang mesti dikaji terutama berkenaan dengan seluruh tingkat dan aspek kehidupan sosial, yang jelas perubahan itu sendiri pasti adanya, namun yang berbeda hanyalah tingkat perubahannya itu sendiri, ada yang lambat, ada yang cepat.
Selain itu perubahan sosial juga terjadi karena adanya beberapa hubungan yang saling mempengaruhi. Pertama, antara individu dengan kebudayaan. Kedua, dipengaruhi oleh adanya kontak dengan kebudayaan lain.

1.2. PROSES YANG TERJADI DALAM PENDIDIKAN.
1. Memelihara kebudayaan dengan mewariskannya kepada generasi muda.

2. Mengembangkan kemampuan partisipasi siswa.

3. Memperkaya kehidupan dengan memperluas wawasan pengetahuan dan seni siswa.

4. Meningkatkan penyesuaian diri siswa dengan bimbingan pribadi dan berbagai pelajaran.

5. Membentuk warga negara yang patriotik

 1.3. Jenis dan tipe sosialisasi

Ø  Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.

Ø  Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di dalam masyarakat.
Dari kedua tipe sosialisasi tersebut, formal dan informal, kita lebih banyak mendapatkan tipe sosialisasi informal dalam kehidupan sehari-hari. Untuk sosialisasi formal, seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity).

1.4. Peran sosialisasi terhadap pendidikan
Yang telah kita ketahui, agen soasialisasi salah satunya adalah lembaga pendidikan (Sekolah). Pada agen sosialisasi ini mengajarkan setiap tunas bangsa untuk berprilaku sesuai aturan setiap daerah masyarakat, agar menjadi individu yang baik.

Setiap sekolah memiliki aturan-aturan yang berbeda, hall tersebut digunakan untuk membantu melatih setiap individu berprilaku sesuai norma-norma yang ada di masyarakat, dan digunakan untuk menghindari penyimpangan penyimpangan social.

BAB II

1.1.Kesimpulan
Melalui proses pendidikan, anak-anak diperkenalkan pada nilai dan norma atau budaya masyarakat, bangsa, dan negaranya, sehingga diharapkan dapat memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Semua itu amat bermanfaat bagi pengembangan kepribadian anak sebagai individu dan sekaligus sebagai warga masyarakat, bangsa, dan negara. Sekolah sesungguhnya juga menyediakan sarana bagi terbentuknya kelompok teman sebaya (peer group).
1.2.DAFTAR PUSTAKA
http://latheevsmartest.blogspot.com/2011/05/pengaruh-masyarakat-dan-sistem-non_14.html

http://new.kidevo.com/materi-lengkap.php?id=1181

http://muchasmuchasgracias.blogspot.com/2011/06/sekolah-sebagai-agen-sosialisasi.html

http://sharenexchange.blogspot.com/2010/02/sosialisasi-masyarakat_8061.html

 

 

 

 

 

Strategi Mengajar Untuk Memotivasi Anak Dalam Menempuh Pendidikan

0

Strategi Mengajar Untuk Memotivasi Anak Dalam Menempuh Pendidikan

 

 

 

 

 

Nama : Tri Rifianto
NPM  : 17112457
Kelas  : 1ka19

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang

Berhasil atau tidaknya seseorang  tergantung pada pendidikan dasar yang di berikan pada saat kecil, dan berhasil atau tidaknya seseorang menempuh pendidikan jenjanga berikutnya setelah jenjang pendidikan dasar adalah tergantung pada diri dan kemauan setiap individu yang menjalaninya. Tidak hanya itu, peran orang tua dan guru juga sangan berperan aktif dalam masa pendidikan jenjang sekolah dasar dan seterusnya. Dengan demikian begitu penting dan menentukannya pendidikan dasar ini sebagai landasan untuk dapat menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, guru-guru bekerja sama dengan para orang tua murid harus dapat memberikan pendidikan yang terbaik ditinjau dari kacamata kepentingan anak.

 

Biasanya pada tahap pendidikan, setiap orang tua ingin yang mendapatkan yang terbaik bagi dan untuk anaknya, sehingga biasanya setiap orang tua dan guru memaksakan kehendak anaknya yaitu untuk berkerja terlalu keras menyerap pelajaran. Itu semua tidak terlalu buruk dampaknya selagi si anak tersebut dapat menikmatinya, namun jiga seorang anak mulai merasa jenuh pada awalnya, biasanya akan merasa jenuh pada hari-hari kedepannya, karena cara berfikir anak berbeda dengan cara berfikir orang dewasa yang semestinya hari esok adalah hari yang lebih baik dari pada kemarin.

 

Perlu dicermati bahwa anak adalah individu yang dinamis, bukan benda mati seperti gelas yang siap untuk diisi air semau tuannya tanpa ekspresi. Anak adalah seorang individu yang penuh potensi untuk dikembangkan secara bijaksana sesuai bakat, minat, dan kemampuannya. Sebenarnya tidak sulit untuk mengembangkan dan memupuk kemauan belajar siswa, asalkan guru maupun orang tua dapat melakukan pendekatan-pendekatan yang tepat. Guru dan orang tua harus dapat menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar menyenangi hal-hal yang positif termasuk belajar. Seorang anak yang telah tumbuh motivasi belajarnya, tanpa disuruh pun ia akan giat belajar sendiri bahkan kita akan kewalahan memenuhi ajakan anaknya yang mau belajar. Dan bila anak sudah semakin dewasa ia akan mempunyai semangat yang tinggi serta tanggung jawab sendiri terhadap kewajiban belajarnya.

 1.2. Rumusan masalah:

1. Mengapa motivasi anak akan pendidikan berkurang.
2. Bagai mana cara menumbuhkembangkan motivasi anak untuk belajar.
3. Penyebab motivasi untuk belajar menurun.

1.3. Tujuan:
 1. Mengetahui cara memotivasi anak dalam belajar
2. Mengetahui apa saja factor anak malas dalam belajar.

1.4. Rangkuman
Motivasi adalah kemauan setiap individu, dilatari oleh suatu keinginan untuk mencapai cita-cita, keinginan untuk merealisasikan ide, gagasan. Motivasi tidak akan terbentuk oleh siapa pun, baik orang tua, guru, maupun teman. Mereka hanya perantara. Dan yang terpenting ada diri sendiri, yang memiliki keinginan dan kemauan.

 

BAB II
ISI

 

1.1. Strategi mengajar untuk menumbuh kembangkan motivasi
anak dalam belajar
Setiap guru memiliki caranya masing-masing untuk membuat muritnya termotivasi dalam belajar. Satu hal lagi adalah, member kenyamanan pada setiap muritnya. Karena jika kondisi tenang dan nyaman maka setiap pelajar akan dapat menyerap pelajaran dengan baik.

Biasanya setiap guru agak kesulitan dengan mengenali karakter setiap siswanya. Dikarenakan karakter itu pasti berbeda, dari segi sifat, bakat, bahkan kemampuan. Itulah sebabnya maka guru harus kenal dekat dengan setiap muritnya agar setiap pelajaran yang di berikan dapat disampaikan dengan baik berdasarkan karakteristik setiap muritnya.

Cobalah untuk selalu menggali potensi, minat, cita-cita yang ada pada setiap murit. Mengapa harus begitu, karena pada saat setiap guru memahami apa yang di inginkan setiap muritnya, guru hanya tingal membuat setiap muritnya berusaha untuk mengapai cita-citanya yang baik.

Selalulah untuk mencoba member pemahaman pada setiap murit yang mengalami kesulitan dalam belajar, dan selalu dekati mereka dan katakana bahwa apa yang di pelajari, selama belajar dengan sungguh-sungguh maka pelajaran tersebut dapat kita pelajari dengan baik dan mudah.

1.2. Faktor yang mempengaruhi turunnya motivasi belajar
a) Kematangan

Dalam pemberian motivasi, faktor kematangan fisik, sosial dan psikis haruslah diperhatikan, karena hal itu dapat mempengaruhi motivasi. Seandainya dalam pemberian motivasi itu tidak memperhatikan kematangn, maka akan mengakibatkan frustasi dan mengakibatkan hasil belajar tidak optimal.

b) Usaha yang bertujuan

Setiap usaha yang dilakukan mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, akan semakin kuat dorongan untuk belajar.

c) Pengetahuan mengenai hasil dalam motivasi

Dengan mengetahui hasil belajar, siswa terdorong untuk lebih giat belajar. Apabila hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa akan berusaha untuk mempertahankan atau meningkat intensitas belajarnya untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik di kemudian hari. Prestasi yang rendah menjadikan siswa giat belajar guna memperbaikinya.

d) Partisipasi

Dalam kegiatan mengajar perluh diberikan kesempatan pada siswa untuk berpartisipasi dalam seluruh kegiatan belajar. Dengan demikian kebutuhan siswa akan kasih sayang dan kebersamaan dapat diketahui, karena siswa merasa dibutuhkan dalam kegiatan belajar itu.

1.3. Menumbuhkembangkan motivasi belajar anak
 * Memilih cara dan metode mengajar yang tepat termasuk memperhatikan penampilannya

* Menginformasilkan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

* Menghubungkan kegiatan belajar dengan minat siswa

* Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran misalnya melalui kerja
kelompok

* Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi
yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya

* Melakukan improvisasi-improvisasi yang bertujuan untuk menciptakan rasa senang anak
terhadap belajar. Misalnya kegiatan belajar diseling dengan bernyanyi bersama atau sekedar
bertepuk tangan yang meriah

* Menanamkan nilai atau pandangan hidup yang positif tentang belajar misalnya dalam
agama islam belajar dipandang sebagi sebuah kegiatan jihad yang akan mendapatkan nilai
amal disisi Allah.

* Menceritakan keberhasilan para tokoh-tokoh dunia yang dimulai dengan mimpi-mimpi
mereka dan ceritakan juga cara-cara mereka meraih mimpi-mimpi itu. Ajak siswa untuk
bermimpi meraih sukses dalam bidang apa saja seperti mimpinya para tokoh dunia tersebut.

BAB II

1.1.Kesimpulan
Bagaimana cara menumbuhkembangkan motivasi belajar pada anak adalah dengan cara pendekatan secara fisik dan mental. Yang terpenting adalah mental, karena setiap pemikiran orang dewasa dan anak-anak berbeda. Harus di tumbuhkembangkan setiap motivasi-motivasi belajar pada anak usia dini, dengan cara yang menyenangkan dan tidak terlalu menekan
pelajaran pada anak, karena pada dasarnya setiap anak memiliki cara belajar lebih condong belajar sambil bermain, bukan hanya belajar.
Sikap guru serta peran orang tua juga sangat berperan aktif dalam perkembangan motivasi belajar anak. Guru hanya sebagai mobilisasi antara keinginan anak yang belum tercapai dan keinginan anak untuk mencapainya.
1.2.DAFTAR PUSTAKA
http://www.mamansoleman.net/2012/07/menumbuhkan-motivasi-belajar-anak.html

http://rraaggiill.wordpress.com/2012/11/11/strategi-mengajar-untuk-memotivasi-anak-dalam-menempuh-pendidikan/

http://makalah.blogspot.com/2011/10/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.html

http://makalah.blogspot.com/2011/10/makalah-pengertian-motivasi-belajar.html

 

 

Kualitas lulusan pendidikan kesetaraan untuk meningkatkan SDM

0

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.         LATAR BELAKANG
Akhir-Akhir ini lapangan di kota-kota besar semakin terlihat sempit, namun pada umumnya tidak dapat di katakana sempit, karena setiap kota-kota besar pasti memiliki banyak lapangan pekerjaan. Tergantung dari keahlian skill masing-masing indifidu dalam dunia kerja, keuletan dan ketekunan dalam bekerja.

Banyak orang mengira bahwa kota-kota besar merupakan lahan dari segala pekerjaan, dari yang berkualitas sampai dapat di katakana hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Semua itu memiliki keterkaitan akan dunia pendidikan di setiap masing-masing daerah. Membangun manusia Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat merupakan visi besar yang hendak dicapai para pendiri bangsa Indonesia. Salah satu program yang diperlukan adalah pendidikan bermutu yang selaras dengan dunia kerja.

Mengembangkan kurikulum pendidikan agar sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia usaha sehingga selaras dengan dunia kerja. Dengan demikian, diharapkan para lulusan dapat segera memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Hal ini tidak hanya kurikulum sekolah, namun juga bagi paket belajar untuk pendidikan kesetaraan tingkat SD, SMP, dan SMA, homeschooling, maupun lembaga pelatihan/kursus.

Yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah Kualitas lulusan pendidikan kesetaraan (Paket A, Paket B, Paket B).
Pada jalur non formal, (program pendidikan kesetaraan khususnya kejar paket A,B dan C)  hingga kini masih banyak hambatan social masyarakat. Hal ini disebabkan karena orang yang seharusnya mengikuti program pendidikan ini mayoritas berusia di atas 44 tahun, sehingga rata-rata mereka beranggapan, tak ada gunanya melanjutkan ke kesetaraan. Penyebab lainnya karena adanya perasaaan malu di kalangan warga belajar sendiri karena program paket A ini untuk kesetaraan sekolah dasar.

Meski menyadari adanya hambatan, namun pemerintah tatap menjalankan program ini. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari pemerintah untuk memfasilitasi dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negaranya untuk mengakses pendidikan.
 

 

1.2. Rumusan masalah:
 1. Apa Pengertian Pendidikan Kesetaraan
2. Macam-macam jenis pendidikan kesetaraan
3. Mutu Pendidikan Kesetaraan untuk Sumber Daya Manusia (SDM)

1.3. Tujuan:
 1. Untuk lebih mengetahui tentang pendidikan kesetaraan.
2. Mengetahui potensi kerja dari lulusan pendidikan kesetaraan.
3. Mengetahui mutu Pendidikan lulusan kesetaraan.

1.4. Rangkuman
Program pendidikan kesetaraan, yang selama ini kita kenal, bukan hanya sebagai program tambahan bagi setiap orang yang kurang beruntung dalam dunia pendidikan. Namun program ini merupakan program yang sangat bermanfaat. Dan setiap struktur programnya juga memiliki Standar Kompetensi skill bidang masing-masing.
Paket A, Paket B, Dan Paket C. Memiliki Standar Kompetensi skill bidang kerjanya sendiri-sendiri.
Paket A: Memiliki keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
Paket B:  Memiliki keterampilan untuk memenuhi tuntutan kerja
Paket C: Memiliki keterampilan berwirausaha
Setiap orang pasti memiliki kemampuannya masing-masing selain di bidang pengetahuan dasar. Jika hanya memiliki salah satu kemampuan di atas, bukan berarti orang tersebut tidak siap dalam dunia kerja, namun mereka sebenarnya memiliki spesialisasi di bidangnya dan belum sempat di kembangkan. Berikut Tujuan dari masing-masing paket:

Paket A: Tujuan Pendidikan Kesetaraan Paket A adalah memperluas akses Pendidikan Dasar sembilan tahun melalui Pendidikan Non Formal program paket A.

Paket B: Tujuan Pendidikan Kesetaraan Paket B adalah memberikan pelayanan pendidikan dasar setara SLTP pada siswa lulus SD atau yang sederajat karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan formal .

Paket C: Tujuan Program Paket C adalah memperluas akses Pendidikan Non Formal Program Paket C setara SMA / MA yang menekankan pada ketrampilan fungsional dan kepribadian profesional.

 

 

BAB II
ISI

 

1.1. Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan ini merupakan kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pendidikan luar sekolah sebagai suatu sub system pendidikan non formal. Yang dimaksud pendidikan non formal adalah “ pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan ketat”. Dengan adanya batasa pengertian tersebut, rupanya pendidikan non formal tersebut berada antara pendidikan formal dan pendidikan informal.1
Pendidikan Kesetaraan adalah salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan nonformal yang meliputi kelompok belajar (kejar) Program Paket A setara SD/MI, Program Paket B setara SMP/MTs, dan Program Paket C setara SMA/MA yang dapat diselenggarakan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat kegiatan belajar Masyarakat (PKBM), atau satuan sejenis lainnya.
Dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan mengganti.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka salah satu upaya yang ditempuh untuk memperluas akses pendidikan guna mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah melalui pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan merupakan program pendidikan non formal yang menyelenggarakan pendidikan umum yang mencakup Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMU).2

1.2. Sasaran Pendidikan Kesetaraan
1. Penduduk tiga tahun di atas usia SD/MI ( 13-15) Paket A dan tiga tahun di atas usia
SMP/MTS ( 16 -18 ) Paket B
2. Penduduk usia sekolah yang tergabung dengan komunitas e-lerning,sekolahrumah,sekolah
alternatif,komunitas berfotensi khusus seperti pemusik,atlet,pelukis dll
3. Penduduk usia sekolah yang terkendala masuk jalur formal karena:
a. Ekonomi terbatas
b. Waktu terbatas
c. Geografis ( etnik minoritas,suku terasing)
d. Keyakinan seperti Ponpes
e. Bermasalah,(sosial,hukum)
4. Penduduk usia 15-44 yang belum tuntas wajar Dikas 9 tahun
5. Penduduk usia SMA/MA berminat mengikuti program Paket C
6. Penduduk di atas usia 18 tahun yang berminat mengikuti Program Paket C karena berbagai
alasan

1.3. Kualitas dan Mutu Pendidikan kesetaraan Bagi SDM

Sering dikatakan bahwa guru profesional wajib memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogis, kognitif, personaliti, dan sosial. Ke empat kompetensi ini cara mendapatkannya melalui proses panjang, dimana seorang guru harus selalu belajar dan meningkatkan wawasannya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial (politik). Selain terampil mengajar, seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, bijaksana, kreatif dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan dimana dia bertugas.
Kiranya seorang guru pendidikan nonformal (selanjutnya disebut Tutor) hendaknya juga bisa berperilaku seperti guru sekolah formal yang dipaparkan diatas, sehingga program pendidikan kesetaraan yang menjadi bidang kerjanya bisa benar-benar setara dengan pendidikan formal, sehingga lulusannya siap melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau siap terjun ke dunia kerja untuk bersaing mendapatkan pekerjaan, bahkan siap bekerja secara mandiri. sehingga tidak terlalu salah bila masing-masing tutor perlu dibekali dengan seperangkat pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk menunjang :penampilannya”, seperti:
(1) Memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya
(2) Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya
(3) Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya melalui berbagai  diklat dan
workshop.
Namun, kenyataannya sampai saat ini, masih banyak tutor belum memiliki keterampilan mengajar yang memadai sehingga hasil pembelajarannya tidak tercapai maksimal karena yang menjadi tutor itu banyak yang tidak memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas. Artinya, selama ini yang menjadi tutor itu adalah orang-orang yang mau dan mempunyai kepedulian untuk berbagai ilmu kepada sesamanya yang karena sesuatu hal tidak sempat menikmati pendidikan formal. Kemudian, di lapangan masih banyak tutor yang berlatar belakang guru sehingga menggunakan metode mengajar yang monoton seperti ketika mereka mengajar di sekolah, terlepas anak didiknya suka atau tidak suka, cocok atau tidak dengan metode tersebut. Konsekuensinya, muncul kultur sekolah yang cenderung bersifat otoriter. Kultur pembelajaran yang tidak dialogis partisipatif, hal ini menyebabkan proses belajar mengajar menjadi statis serta membelenggu keberanian bertanya untuk memuaskan rasa “keingintahuan”, kepercayaan diri, kreativitas, dan kebebasan berfikir di kalangan peserta didik. Padahal karakteristik pendidikan formal itu tidak sama dengan pendidikan nonformal yang diantaranya sangat dipengaruhi oleh usia, pengalaman hidup, pendidikan sebelumnya, pekerjaan, pergaulan kesehariannya, latar belakang sosial ekonomi peserta didik serta motivasi dalam mengikuti program pendidikan nonformal (khususnya pendidikan kesetaraan).
Untuk itulah upaya penumbuhan profesionalisme tutor merupakan suatu keniscayaan untuk mewujudkan program pendidikan kesetaraan yang ’ideal’ sebagai salah satu program unggulan pendidikan nonformal.

BAB II

1.1.Kesimpulan
Setiap Program pendidikan yang pada dasarnya di laksanakan oleh pemerintah adalah semata-mata untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia di era globalisasi yang ada pada saat ini, semua itu di lakukan dengan cara bertahap, dan dapat di lakukan oleh orang yang tidak mampu, ataupun yang kurang beruntung dalam dunia pendidikan.
banyak sekali program pemerintah bagi orang kurang mampu seperti salah satunya adalah pendidikan kesetaraan.
Namun yang terjadi adalah, setiap pendidikan kesetaraan pada saat ini masih kurang efisien bagi setiap pelajar yang mengikuti pendidikan kesetaraan, dikarenakan masih adanya kekurangan-kekurangan seperti tenaga pengajar yang kompeten, dan lain-lain. Diharapkan dengan adanya artikel ini, setiap pembaca menjadi mawas diri karena telah beruntung mendapatkan pendidikan yang semestinya di era globalisasi ini.
1.2.DAFTAR PUSTAKA
http://suaraguru.wordpress.com/2010/04/29/mutu-lulusan-pendidikan-dan-dunia-kerja/

http://rraaggiill.wordpress.com/2012/11/11/kualitas-lulusan-pendidikan-kesetaraan-untuk-meningkatkan-sumber-daya-manusia/

http://pls.unnes.ac.id/2011/contoh-artikel-3/

http://st298648.sitekno.com/page/43418/pendidikan-kesetaraan-paket-abc.html